ATONIA UTERI
Kasus: seorang wanita usia 43 tahun, baru melahirkan anak ke 5. dirujuk ke sebuah rumah sakit karena terjadi perdarahan yang cukup banyak. ditemukan tekanan darah 90/70mmhg, akral dingin, anemis. uterus teraba lembek.placenta lahir lengkap. kira-kira diagnosisnya apa?
penjelasan atonia uteri:
penjelasan atonia uteri:
Atonia Uteri didefinisikan sebagai suatu kondisi kegagalan uterus dalam
berkontraksi dengan baik setelah persalinan, sedangkan atonia uteri juga
didefinisikan sebagai tidak adanya kontraksi uterus segera setelah plasenta
lahir.
B.
Etiologi
1. Overdistention uterus seperti:
gemeli, makrosomia, polihidramnion, atau paritas tinggi.
2. Umur yang terlalu muda atau terlalu
tua
3. Multipara dengan jarak keahiran
pendek
4. Partus lama / partus terlantar
5. Malnutrisi
6. Dapat juga karena salah penanganan
dalam usaha melahirkan plasenta, sedangkan sebenarnya belum terlepas dari
uterus.
C.
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Distensi rahim yang berlebihan
Penyebab
distensi uterus yang berlebihan antara lain:
a. kehamilan ganda
b. poli hidramnion
c. makrosomia janin (janin besar)
2. Peregangan uterus yang berlebihan
karena sebab-sebab tersebut akan mengakibatkan uterus tidak mampu berkontraksi
segera setelah plasenta lahir.
3. Pemanjangan masa persalinan (partus
lama) dan sulit
Pada partus
lama uterus dalam kondisi yang sangat lelah, sehingga otot-otot rahim tidak
mampu melakukan kontraksi segera setelah plasenta lahir.
4. Grandemulitpara (paritas 5 atau
lebih)
Kehamilan
seorang ibu yang berulang kali, maka uterus juga akan berulang kali teregang.
Hal ini akan menurunkan kemampuan berkontraksi dari uterus segera setelah
plasenta lahir.
5. Kehamilan dengan mioma uterus
Mioma yang
paling sering menjadi penyebab perdarahan post partum adalah mioma intra mular,
dimana mioma berada di dalam miometrium sehingga akan menghalangi uterus
berkontraksi.
6. Persalinan buatan (SC, Forcep dan
vakum ekstraksi)
Persalinan
buatan mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera mengeluarkan buah
kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin menjadi lelah dan lemah untuk
berkontraksi.
7. Persalinan lewat waktu
Peregangan
yang berlebihan ada otot uterus karena besarnya kehamilan, ataupun juga terlalu
lama menahan beban janin di dalamnya menjadikan otot uterus lelah dan lemah
untuk berkontraksi.
8. Infeksi intrapartum
Korioamnionitis
adalah infeksi dari korion saat intrapartum yang potensial akan menjalar pada
otot uterus sehingga menjadi infeksi dan menyebabkan gangguan untuk melakukan
kontraksi.
9. Persalinan yang cepat
Persalainan
cepat mengakibatkan otot uterus dipaksa untuk segera mengeluarkan buah
kehamilan dengan segera sehingga pada pasca salin menjadi lelah dan lemah untuk
berkontraksi.
10. Kelainan plasenta
Plasenta
akreta, plasenta previa dan plasenta lepas prematur mengakibatkan gangguan
uterus untuk berkontraksi. Adanya benda asing menghalangi kontraksi yang baik
untuk mencegah terjadinya perdarahan.
11. Anastesi atau analgesik yang kuat
Obat
anastesi atau analgesi dapat menyebabkan otot uterus menjadi dalam kondisi
relaksasi yang berlebih, sehingga saat dibutuhkan untuk berkontraksi menjadi
tertunda atau terganggu. Demikian juga dengan magnesium sulfat yang digunakan
untuk mengendalikan kejang pada preeklamsi/eklamsi yang berfungsi sebagai
sedativa atau penenang.
12. Induksi atau augmentasi persalinan
Obat-obatan
uterotonika yang digunakan untuk memaksa uterus berkontraksi saat proses
persalinan mengakibatkan otot uterus menjadi lelah.
13. Penyakit sekunder maternal
Anemia,
endometritis, kematian janin dan koagulasi intravaskulere diseminata merupakan
penyebab gangguan pembekuan darah yang mengakibatkan tonus uterus terhambat
untuk berkontraksi.
Komentar
Posting Komentar