mioma uterus
Mioma uteri adalah
neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat pada organa
genitalia feminina. Mioma uteri juga dikenal dengan istilah fibromioma,
leiomioma, myoma, tumor otot rahim atautumor fibroid.3,4
2. Epidemiologi
Mioma uteri lebih sering didapati pada
wanita kelompok usia reproduksi sebesar 20 – 50%. Jarang sekali ditemukan pada
wanita berumur 20 tahun,paling banyak (kurang lebih 25%) pada usia 35-45 tahun
dan setelah manopause mioma jadi lisut, hanya 10% yang masih dapat tumbuh
lanjut, dan lebih sering ditemukan pada
wanitanulipara atau yang kurang subur.Menurut penelitian, sekitar 30-40% dari wanita di Amerika
memiliki penyakit ini pada usia 40 tahun. Menurut perkiraan frekuensi mioma
uteri dalam kehamilan dan persalinan berkisar sekitar 1%; banyak mioma kecil
tidak dikenal. Dalam banyak kasus kombinasi mioma dengan kehamilan tidak
mempunyai arti apa-apa, Di pihak lain kombinasi itu dapat menyebabkan
komplikasi obstetrik yang besar artinya (tergantung dari besar dan lokasinya).3,4
Departemen Kesehatan telah mencatat
angka kejadian penyakit mioma uteri dengan rasio 10 – 20% dari seluruh kasus
genekologi.Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7% pada semua penderita
genekologi yang dirawat.3,4
3. Patologi Anatomi
Sebagian besar sarang mioma berasal
dari korpus uterus dan hanya 1-3% yang berasal dari serviks uterus. Menurut
letaknya, mioma dapat dibagi menjadi :5,6,7
1.
Mioma submukosum
Mioma jenis ini
berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Moima
submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui
saluran serviks (myom geburt). Mioma bertangkai dapat menonjol melalui kanalis
servikalis dan pada keadaan ini mudah terjadi torsi atau infeksi. Mioma ini
memperluas permukaan ruangan rahim. Dari sudut klinis mioma submukosum,
walaupum berukuran kecil selalu memberikan keluhan pendarahan melalui vagina
dan sulit dihentikan.
2.
Mioma intramural
Mioma ini terdapat
di dinding uterus di antara serabut miometrium. Mioma ini disebut juga mioma
intraepitelial. Mioma ini berada diantara lapisan otot rahim. Mioma ini dalam
otot rahim dapat membesar dan padat (jaringan ikat dominan) dan lunak (jaringan
otot rahim dominan).
3.
Mioma subserosum
Mioma ini tumbuh keluar dinding uterus
sehingga menonjol pada permukaan uterus dan diliputi oleh serosa. Lokasi tumor
di subserosa korpus uteri dapat hanya sebagai tonjolan saja,dapat pula sebagai
satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke arah
lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut sebagai mioma
intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan mengisi rongga peritoneal sebagai
suatu massa. Perlengketan dengan usus,
omentum, atau mesenterium di sekitarnya menyebabkan sistem peredaran darah
duambil alih dari tangkai omentum, yang berakibat tangkai semakin mengecil dan
terputus sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor yang bebas dalam rongga
peritoneum. Mioma jenis ini dikenal sebagai jenis parasitik atau
wandering/parasitic fibroid.


Gambar 2. Mioma uteri
4.
Etiologi
dan Patogenesis
Penyebab
mioma uteri belum diketahui secara pasti sampai saat ini. Mioma dipercaya
merupakan sebuah tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari
sebuah sel neoplastik tunggal, Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom.4Meyer dan De Snoo mengajukan
teori Cell nest atau teori genitoblast percobaan Lipschutz yang
memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor
fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen. Efek
fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat progesteron dan testosteron.
Puukka dan kawan-kawan menyatakan bahwa reseptor estrogen pada mioma lebih
banyak didapatkan pada miometrium normal. Menurut Meyer, asal mioma adalah sel
imatur, bukan dari selaput otot yang matur.3,4,5
5. Faktor Risiko
1. Usia
Mioma uteri ditemukan
sekitar 20- 50% pada wanita usia reproduksi dan sekitar 20%-30% pada wanita
usia di atas 35 tahun. Mioma uteri jarang ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan
haid). Sedangkan pada wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%.3,5,6
3. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis
keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri mempunyai 2,5 kali
kemungkinan untuk menderita mioma dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan
penderita mioma uteri.5
4. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga
berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan
konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan
lemak. Hasilnya terjadi peningkatan jumlah estrogen tubuh.4
5. Makanan
Dari beberapa
penelitian yang dilakukan menerangkan hubungan antara makanan dengan prevalensi
atau pertumbuhan mioma uteri. Dilaporkan bahwa seringnya mengkonsumsi daging
meningkatkan insiden mioma uteri.4
6. Kehamilan
Kehamilan dapat menimbulkan
perubahan pada mioma uteri antara lain: 1) tumor membesar terutama pada
bulan-bulan pertama karena pengaruh estrogen yang kadarnya meningkat; 2) dapat
terjadi degenerasi merah pada waktu hamil maupun masa nifas, yang kadang-kadang
memerlukan pembedahan segera guna
mengangkat sarang mioma; dan 3) meskipun jarang mioma uteri bertangkai dapat
juga mengalami torsi dengan gejala dan tanda sindrom abdomen akut.7
7. Paritas
Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan nulipara ( kurang
subur) dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan
satu atau dua kali.4
6. Gambaran
Histopatologi Mioma Uteri
1. Gambaran makroskopik
Pada gambaran makroskopik menunjukan suatu tumor berbatas tegas, tetapi tidak bersimpai, padat, berwarna putih kelabu dengan ditandai oleh penampang
melintang yang berbentuk pusaran (whorled cut surface).7
2. Gambaran mikroskopik
Pada gambaran mikroskopik
sel-sel tumor mirip dengan sel-sel normal dan berbentuk bundle dengan arah yang berbeda. Sel sel ini seragam dalam bentuk
dan ukuran dengan mitosis yang jarang.7
7. Perubahan
Sekunder
Perubahan-perubahan sekunder pada mioma
uteri adalah sebagai berikut :3
1. Atropi
Sesudah menopause ataupun sesudah
kehamilan mioma uteri menjadi kecil.
2. Degenerasi hialin
Perubahan ini sering terjadi terutama pada
penderita yang berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi
homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau sebagian kecil mioma uteri
seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik
Degenerasi kistik dapat meliputi daerah
kecil maupun luas, dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk
ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi seperti agar-agar, dapat juga terjadi
pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga menyerupai limfangioma.
Dengan konsistensi yang lunak ini tumor sukar dibedakan dengan kista ovarium
atau suatu kehamilan.
4. Degenerasi membatu
Degenerasi membatu atau calcareous
degeneration, terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh karena
adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada
sarang mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto
rontgen.
5. Degenerasi merah
Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis
diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah
disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak khas
pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada
uterus membesar disertai nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti
pada putaran tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak
Degenerasi lemak jarang terjadi, merupakan
kelanjutan degenerasi hialin.
8. Komplikasi
1. Degenerasi ganas.
Keganasan umumnya baru
ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang telah diangkat. Kecurigaan
akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi
pembesaran sarang mioma dalam menopause. Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma
ditemukan hanya 0,32-0,6% dari seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua
sarkoma uterus.3
2. Torsi.
Sarang mioma yang
bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut sehingga
mengalami nekrosis, Dengan demikian terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi
terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak terjadi. Hal ini hendaknya
dibedakan dengan suatu keadaan dimana terdapat banyak sarang mioma dalam rongga
peritoneum. Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan
karena gangguan sirkulasi darah. Misalnya terjadi pada mioma yang dilahirkan
hingga pendarahan berupa metroragia atau menoragia disertai leukore dan
gangguan-gangguan yang disebabkan oleh infeksi dari uterus sendiri.3
Komentar
Posting Komentar