efusi pleura
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan
dalam rongga pleura.(3)
Patofisiologi
Pada orang normal, cairan di rongga pleura sebanyak 1-20
ml. Cairan di rongga pleura jumlahnya tetap karena ada keseimbangan antara
produksi oleh pleura parietalis dan absorpsi oleh pleura viseralis. Keadaan ini
dapat dipertahankan karena adanya keseimbangan antara tekanan hidrostatis
pleura parietalis sebesar 9 cm H2O dan tekanan koloid osmotic pleura
viseralis 10 cm H2O.
Akumulasi cairan pleura dapat terjadi apabila :
1.
Tekanan koloid osmotic menurun
dalam darah, misalnya pada hipoalbuminemi.
2.
Terjadi peningkatan :
·
Permeabilitas kapiler
(peradangan, neoplasma).
·
Tekanan hidrostatis di pembuluh
darah ke jantung/vena pulmonalis (kegagalan jantung kiri).
·
Tekanan negatif intra pleura
(atelektasis). (2)
Cairan efusi pleura dapat berupa :
1.
Cairan transudat, terdiri atas
cairan yang bening, biasanya ditemukan pada kegagalan jantung, kegagalan ginjal
yang akut atau kronik, keadaan hipoproteinemia pada kegagalan fungsi hati,
pemberian cairan infuse yang berlebihan, dan fibroma ovarii (Meig’s syndrome).
2.
Cairan eksudat, berisi cairan
kekeruh-keruhan, paling sering ditemukan pada infeksi tuberculosis, atau nanah
(empiema) dan penyakit-penyakit kolagen (lupus eritematosus, rheumatoid
arthritis).
3.
Cairan darah (hemotoraks), dapat
disebabkan trauma tertutup atau terbuka, infark paru, dan karsinoma paru.
4.
Cairan getah bening; meskipun
jarang terjadi tetapi dapat diakibatkan oleh sumbatan aliran getah bening
toraks, misalnya pada filariasis atau metastasis pada kelenjar getah bening
dari suatu keganasan.(4)
Eksudat dibedakan dengan transudat dari kadar protein yang
dikandungnya dan dari berat jenisnya. Transudat mempunyai berat jenis kurang
dari 1,015 dan kadar proteinnya kurang dari 3%, sedangkan eksudat mempunyai
berat jenis dan kadar protein lebih tinggi, karena banyak mengandung sel.(3)
Gambaran Radiologik
Pada pemeriksaan foto toraks rutin
tegak, cairan pleura tampak berupa perselubungan homogen menutupi struktur paru
bawah yang biasanya relative radioopak dengan permukaan atas cekung, berjalan
dari lateral atas kea rah medial bawah. Karena cairan mengisi ruang hemitoraks
sehingga jaringan paru akan terdorong kea rah sentral/hilus, dan kadang-kadang
mendorong mediastinum kea rah kontralateral.
Jumlah cairan minimal yang dapat
terlihat pada foto toraks tegak adalah 250-300 ml. Bila cairan kurang dari 250
ml (100-200 ml), dapat ditemukan pengisian cairan di sinus kostofrenikus
posterior pada foto toraks lateral tegak. Cairan yang kurang dari 100 ml
(50-100 ml), dapat diperlihatkan dengan posisi dekubitus dan arah sinar
horizontal dimana cairan akan berkumpul di samping sisi bawah.
Gambaran radiologik tidak dapat
membedakan jenis cairan mungkin dengan tambahan keterangan-keterangan klinis
atau kelainan lain yang ikut serta terlihat dapat diperkirakan jenis cairan
tersebut. (4)
Klinis Efusi Pleura
Pada hakekatnya kelainan-kelainan yang
ditemukan dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) bagian besar, yaitu yang disebabkan
adanya timbunan cairan dalam rongga pleura di satu pihak dan yang diakibatkan
penyakit ataupun kelainan primernya dilain pihak.
Timbunan cairan dalam rongga pleura
sudah dapat dipastikan akan memberikan kompresi patologis pada paru, sehingga
ekspansinya akan terganggu dengan akibat akhir akan timbul sesak napas
(tentunya tanpa bunyi tambahan, karena bronkus tetap normal). Makin banyak
timbunan cairan, sesak napas akan semakin terasa, sebaliknya bila cairan masih
sedikit maka keluhan sesak masih belum begitu nyata, atau malahan tidak terasa
sama sekali.Pada beberapa penderita akan timbul batuk-batuk kering, yang
disebabkan oleh rangsangan pada pleura.
Pada pemeriksaan jasmani, makin banyak
cairan, makin tampak benar paru di sisi yang sakit akan ketinggalan pada
pernapasan (perlu diperhatikan bahwa keadaan ini juga dapat disebabkan karena
timbulnya rasa nyeri). Fremitus akan melemah (semakin banyak cairan semakin
lemah fremitus ini), bahkan pada efusi yang berat fremitus dapat sama sekali
tidak terasa. Bila banyak sekali cairan dalam rongga pleura, maka akan tampak
sela-sela iga menonjol atau konveks. Pada perkusi di daerah yang ada cairannya
akan dapat didengar suara redup sampai pekak, makin banyak cairan makin
pekaklah bunyi perkusi. Sebagaimana dapat diperkirakan suara napas akan melemah
(cairan sedikit) sampai menghilang sama sekali (cairan banyak). Pada efusi
murni suara tambahan tidak akan ada, sebab parenkim paru sendiri tetap normal.
Beberapa jenis efusi pleura dalam waktu
cepat akan berubah menjadi fibrin, dalam hal ini disebut Schwarte atau fibrotoraks. Tepat sebelum Schwarte mencapai puncaknya, sewaktu pleura viseralis dan
parietalis masih bias bergerak bebas, walaupun sudah mulai ada perlekatan di
sana-sini, dapat terdengan “Pleural Friction Rub” pada setiap inspirasi maupun ekspirasi,
terutama yang dalam.(1)
Pungsi Pleura
1.
Pungsi percobaan atau pungsi
diagnostik, yang dimaksud disini adalah menusuk dari luar dengan suatu semprit
steril 10 atu 20 ml serta menghisap sedikit cairan pleura (kalau ada) keluar
untuk dilihat secara fisik dan untuk pemeriksaan biokimia (tes Rivalta,
Kolesterol dan LDH atau Lactate DeHydrogenase), pemeriksaan bakteriologi umum
terhadap Mycobacterium tuberculosis
serta pemeriksaan sitologi. Akhir-akhir ini diketahui bahwa pemeriksaan
kolesterol dan LDH cairan pleura akan sangat memudahkan diagnosis diferensial
antara eksudat dan transudat. Kadar kolesterol cairan efusi di atas 45 mg/dL
dan atau LDH di atas 200 I.U. akan menunjukkan adanya eksudat (COSTA et al,
1995). Pada umumnya hasil pemeriksaan cairan pleura ini akan dapat memberikan
diagnosis pasti.
2.
Pungsi untuk tujuan terapi,
yang dimaksud disini adalah untuk mengeluarkan sebanyak mungkin cairan
patologis yang tertimbun dalam rongga pleura, sehingga dengan demikian di
harapkan paru pada sisi yang sakit dapat mengembang lagi dengan baik serta jantung
dan mediastinum tak lagi terdesak ke sisi yang sehat, sehingga penderita dapat
bernapas dengan lega kembali. Disamping itu hal ini juga untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder
(piotoraks) serta Schwarte di
kemudian hari.(1)
Komentar
Posting Komentar