laporan kasus ulkus kornea
Pada
kasus Tn.A ditegakkan diagnosis OS ulkus kornea dari anamnesis dan pemeriksaan ophtalmologi. Ulkus kornea
adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea,
yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai defek kornea bergaung,
dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai
stroma.
Sesuai dengan anamnesis, ulkus kornea yang
diderita terjadi setelah trauma karena masuknya benda asing. Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera
datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka
badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma
kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi
pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.
Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma,
leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang
tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan
permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah
ulkus kornea. Karena pada permukaan kornea terdapat kekeruhan sehingga pasien
juga mengeluhkan matanya kabur.
Pasien mengeluhkan
penurunan penglihatan terjadi mendadak yang disertai dengan kekeruhan, sehingga
diagnosis katarak dapat disingkirkan. Mata pasien juga mengeluarkan banyak
sekret sehingga kemungkinan terjadi infeksi karena masuknya benda asing.
Pada tatalaksana
ulkus kornea diharuskan untuk rawat inap, karena termasuk kasus gawat darurat.
Apabila terlambat ditangani dapat terjadi komplikasi perforasi kornea. Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus
disembuhkan dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh
dengan dua metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan
mitosis sel dan pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial
yang kecil dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada
ulkus yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat
membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik.
Benda asing dan bahan yang
merangsang harus lekas dihilangkan. Erosi kornea yang sekecil apapu harus
diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Sikloplegika yang sering digunakan
adalah sulfas atropin karena bekerjannya lama 1-2 minggu. Efek kerja atropin
adalah sebagai berikut :
-
Sedatif, menghilangkan rasa sakit
-
Dekongestif, menurunkan tanda radang
-
Menyebabkan paralise m.siliaris dan m.konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya
m.siliaris mata tidak mempunyai daya akomodasi sehingga mata dalam keadaan
istirahat. Dengan lumpuhnya m.konstriktor pupil, terjadi midriasis, sehingga
sinekia posterior yang telah terjadi dapat dilepaskan dan dicegah pembentukan
sinekia posterior yang baru.
Antibiotik yang sesuai dengan kuman
penyebabnya atau yang berspektrum luas dapat diberikan sebagai salep, tetes,
atau suntikan subkonjunctiva.
Komentar
Posting Komentar