sinusitis maksilaris
2 Sinusitis Maksilaris
1)
Definisi
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi
mukosa sinus parasanal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis sehingga
sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya ialah selesma (common cold) yang merupakan infeksi
virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.3
2)
Etiologi
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA akibat virus,
bermacam rinitis terutama rinitis alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil,
polip hidung, kelainan anatomi, seperti deviasi septum atau hipertrofi konka,
sumbatan kompleks osteo-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi, kelainan
imunologik, diskinesia silia seperti pada sindroma Kartagener, dan di luar
negeri adalah penyakit fibrosis kistik.3
Pada anak, hipertrofi
adenoid merupakan faktor penting penyebab sinusitis sehingga perlu dilakukan
adenoidektomi untuk mengangkat sumbatan dan menyembuhkan rinosinusitisnya.
Hipertrofi adenoid dapat didiagnosis dengan foto polos leher posisi lateral.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah lingkungan berpolusi, udara dingin dan
kering serta kebiasaan merokok. Keadaan ini lama-lama menyebabkan perubahan
mukosa dan merusak silia.3
Menurut berbagai
penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut adalah
streptococcus Pneumonia (30-50%). Hemophylus Influenzae (20-40%) dan Moraxella
Catarrhalis (4%). Pada anak, M.Catarrhalis lebih banyak ditemukan (20%). Pada
sinusitis kronik, faktor predisposisi lebih berperan, tetapi umumnya bakteri
yang ada lebih condong ke arah bakteri gram negatif dan anaerob.3

3)
Patogenesis
Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan
lancarnya klirens mokosiliar (mucociliary
clearance) di dalam KOM. Mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan
zat-zat yang bersifat sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernafasan.3
Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila
terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak
dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam
rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Kondisi
ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-bacterial dan biasanya sembuh dalam
beberapa hari tanpa pengobatan.
Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus
merupakan media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Gangguan
penyerapan dan aliran udara di dalam sinus juga menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan lendir yang
diproduksi oleh selaput permukaan sinus akan menjadi lebih kental dan menjadi
mudah untuk bakteri timbul dan berkembang biak. Keadaan ini
disebut sebagai rinosinusitis akut bakterial dan memerlukan terapi antibiotik.3,5
Jika terapi ini tidak berhasil (misalnya karena ada faktor
predisposisi), inflamasi berlanjut terjadi hipoksia dan bakteri anaerob
berkembang. Mukosa semakin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang
terus berputar sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi,
polipoid, atau pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan
tindakan operasi.3
4)
Manifestasi
Klinis
Keluhan utama rinosinusitis
akut ialah hidung tersumbat disertai nyeri/rasa tekanan pada muka dan ingus
purulen, yang seringkali turun ke tenggorok (post nasal drip). Dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan
lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan
ciri khas sinusitis akut, serta kadang-kadang nyeri juga terasa di tempat lain
(reffered pain). Nyeri pada pipi
menandakan sinusitis maksila, nyeri di antara atau di belakang kedua bola
mata menandakan sinusitis etmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala menandakan
sinusitis frontal. Pada sinusitis sfenoid, nyeri dirasakan di verteks,
oksipital, belakang bola mata, dan daerah mastoid. Pada sinusitis maksila
kadang-kadang ada nyeri alih ke gigi dan telinga.3
Selain itu, gejala
infeksi sinus maksilaris akut berupa demam, malaise dan nyeri kepala yang tak
jelas biasanya reda dengan pemberian analgetika biasa seperti aspirin. Wajah
terasa bengkak, penuh, dan gigi terasa nyeri pada gerakan kepala mendadak,
seperti sewaktu naik atau turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas
yang tumpul dan menusuk, serta nyeri pada palpasi dan perkusi. Sekret
mukopurulen dapat keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk. Batuk
inisiatif non-produktif seringkali ada. Transluminasi berkurang bila sinus
penuh cairan.3,5
5).
Diagnosis
Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Untuk mengetahui adanya kelainan pada sinus paranasal dilakukan inspeksi dari
luar, palpasi, rinoskopi anterior, rinoskopi posterior, transluminasi,
pemeriksaan radiologic dan sinoskopi.2,3
a)
Pemeriksaan
Fisik
·
Pada Inspeksi, yang diperhatikan adalah
adanya pembengkakan pada muka. Pembengkakan di pipi sampai kelopak mata bawah
yang berwarna kemerah-merahan mungkin menunjukkan sinusitis maksila akut.
Pembengkakan di kelopak mata atas mungkin menunjukkan sinusitis frontal akut.
Sinusitis etmoid akut jarang menyebabkan pembengkakan di luar, kevuali bila
telah terbentuk abses.
·
Pada palpasi, didapatkan nyeri tekan
pada pipi dan nyeri ketuk di gigi menunjukkan adanya sinus maksila. Pada
sinusitis frontal terdapat nyeri tekan di dasar frontal, yaitu pada bagian
medial atap orbita. Sinusitis etmoid menyebabkan rasa nyeri tekan di daerah
kantus media.
·
Transluminasi mempunyai manfaat yang
terbatas, hanya dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksila dan sinus frontal.
Bila pada pemeriksaan transluminasi tampak gelap di daerah infraorbita, mungkin
berarti antrum terisi oleh pus atau mukosa antrum menebal atau terdapat
neoplasma di dalam antrum. Bila terdapat kista yang besar di dalam sinus
maksila, akan tampak terang pada pemeriksaan transluminasi. Pemeriksaan ini
sudah jarang digunakan karena sangat terbatas penggunaannya.
Pemeriksaan
fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso-endoskopi
sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda yang khas
adalah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis maksila dan etmoid anterior
dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan
sfenoid) Pada rinosistis akut, mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada
pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus medius.2,3
b)
Pemeriksaan
Penunjang
·
Pemeriksaan pembantu yang penting adalah
foto polos atau CT scan. Foto polos posisi water, PA dan lateral, umumnya hanya
mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal.
Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara-cairan (air-fluid level) atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena
mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus
secara keseluruhan dan perluasannya.
·
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes
resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus medius/superior, untuk
mendapatkan secret yang tepat guna. Dan lebih baik lagi bila diambil secret
yang keluar dari pungsi sinus maksila.
·
Sinuskopi dilakukan dengan pungsi
menembus dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat
endoskop bisa dilihat kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat
dilakukan irigasi sinus untuk terapi.3

Pada tahun 1997, American Academy of
Otolaryngology-Head and Neck Surgery (AAO-HNS), menerbitkan kriteria diagnosis
berdasarkan gejala dan tanda sinonasal, yang dibagi menjadi kriteria mayor dan
minor. Terdapatnya 2 atau lebih tanda mayor, atau 1 mayor dan 2 minor, maka
dikatakan sugestif sinusitis.6
Kriteria diagnosis
sinusitis
|
Mayor
|
Minor
|
|
Nyeri atau rasa tertekan pada wajah
Sekret nasal purulen
Demam
Kongesti nasal
Obstruksi nasal
Hiposmia atau anosmia
|
Sakit kepala
Batuk
Rasa lelah
Halitosis
Nyeri gigi
Nyeri atau rasa tertekan pada telinga
|
|
Diagnosis memerlukan dua atau lebih kriteria mayor atau satu
kriteria mayor dengan dua kriteria minor pada pasien dengan gejala lebih dari
7 hari.
|
|
6). Tatalaksana
Tujuan terapi sinusitis ialah 1) mempercepat
penyembuhan
2) mencegah komplikasi dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip
pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drainase dan ventilasi
sinus-sinus pulih secara alami.3
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi
pilihan pada sinusitis akut bakterial, untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan
mukosa serta membuka sumbatan ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah
golongan penisilin seperti amoksisilin. Jika diperkirakan kuman telah resisten
atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan amoksisilin-klavulanat
atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotik diberikan
selam 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.3
Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik
yang sesuai untuk kuman negatif gram dan anaerob. Selain
dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika perlukan seperti
analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian rongga hidung dengan NaCl
atau pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat
antikolinergiknya dapat menyebabkan sekret jadi lebih kental. Bila ada alergi
berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2. Irigasi sinus maksila
atau Proesz displacement therapy juga merupakan terapi tambahan yang dapat
bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan
alergi yang berat.3
Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF /
FESS) merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi.
Tindakan ini telah menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena
memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tindakan
radikal.3
Indikasinya berupa sinusitis kronik yang
tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis kronik disertai kista atau
kelainan yang ireversibel, polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta
sinusitis jamur.3
7).
Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun secara
nyata sejak ditemukannya antibiotik. Komplikasi berat biasanya terjadi pada
sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut, berupa komplikasi
orbita atau intrakranial.3
|
Kelainan orbita
|
disebabkan oleh sinus paranasal
yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang
paling sering ialah sinusitis etmoid kemudian sinusitis frontal dan
maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.
Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses
subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus
kavernosus
|
|
Kelainan
intrakranial.
|
Dapat berupa meningitis, abses
ekstradural atau subdural, abses otak dan trombosis sinus kavernosus
|
|
Osteomielitis dan
abses subperiostal.
|
Paling sering timbul akibat
sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis
sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi
|
|
Kelainan paru
|
seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis.
Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut
sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang
sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.
|
Komentar
Posting Komentar