ikterus obstruktif
Ikterus obstruktif adalah ikterus yang terjadi
karena obstruksi pada saluran empedu sehingga aliran bilirubin yang telah
terkonjugasi (bilirubin direk) terganggu. Disebut juga ikterus post hepatic
Karena penyebab terjadinya ikterus ini adalah daerah posthepatik, yaitu setelah
bilirubin dialirkan keluar dari hepar. Sedangkan nama surgical jaundice dipakai karena pada ikterus tipe ini terapi
utamanya adalah dengan pembedahan.8
B.
Etiologi
Sumbatan
saluran empedu dapat terjadi karena kelainan pada dinding saluran misalnya
adanya tumor atau penyempitan karena trauma (iatrogenik). Batu empedu dan
cacing askaris sering dijumpai sebagai penyebab sumbatan di dalam lumen
saluran. Pankreatitis, tumor kaput pankreas, tumor kandung empedu atau anak
sebar tumor ganas di daerah ligamentum hepatoduodenale dapat menekan saluran
empedu dari luar menimbulkan gangguan aliran empedu.3
Beberapa
keadaan yang jarang dijumpai sebagai penyebab sumbatan antara lain kista
koledokus, abses amuba pada lokasi tertentu, divertikel duodenum dan striktur
sfingter papila vater.3
Penyebab
terjadinya jaundice obstruktif adalah adanya obstruktif post hepatik yang
antara lain disebabkan oleh :3
1.
Obstruksi dalam lumen saluran empedu:
ΓΌ Batu
ΓΌ Parasit (ascaris)
2. Kelainan di dinding saluran
empedu
ΓΌ Atresia bawaan
ΓΌ Striktur traumatic
ΓΌ Tumor saluran empedu
3. Penekanan saluran empedu dari
luar
ΓΌ Tumor caput pancreas
ΓΌ Tumor ampula Vateri
ΓΌ Pankreatitis
ΓΌ Metastasis di dalam ligamentum hepaoduodenale

Gambar
3. Etiologi Ikteus Obstruksi
C.
Epidemiologi
Angka kejadian ikterus obstruksi di
Kroasia meningkat pada usia lanjut. Wanita lebih banyak daripada laki-laki,
paling sering ditemukan akibat batu empedu (54,1% pasien), pada 29,8%
disebabkan karena metastase primer atau sekunder dari keganasan yang menyumbat
aliran empedu. Keganasan yang paling sering menyebabkan ikterus obstruksi
adalah kanker pancreas (11,5%).9
D.
Patofisiologi
Pada
ikterus obstruktif, terjadi obstruksi dari pasase bilirubin direk sehingga
bilirubin tidak dapat dieksrkresikan ke dalam usus halus dan akibatnya terjadi
alrian balik kedalam pembuluh darah. Akibtanya kadar bilirubin direk meninggi
pada aliran darah dan penderita menjadi ikterik. Ikterus paling pertama
terlihat pada jaringan ikat longgar seperti sublingual dan sclera. Karena kadar
bilirubin darah mengingkat maka sekresi bilirubin dari ginjal akan meningkat
sehingga urine akan menjadi gelap dengan bilirubin urin positif. Sedangkan
karena bilirubin yang di eksresikan ke faeces berkurang, maka pewarnaan faeces
menjadi berkurang dan faeces akan berwarna pucat seperti dempul (acholis). Pada
pemeriksaan laboratorium selain kadar bilirubin yang meningkat dapat juga
ditemukan peningkatan alkali fosfatase dan gamma GT sebagai penanda terjadinya
obstruksi.8
Tidak
adanya cairan empedu kedalam usus haus akan menyebabkan feces menjadi pucat dan
terjadinya malabsorpsi lemak sehingga terjadi steatorrhea dan defisiensi
vitamin larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K). Defisiensi vitamin K akan
menyebabkan penurunan kadar protrombin darah yang akan memperpanjang waktu
pembekuan darah.8
E.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang timbul antara lain:10
a.
Ikterus, hal ini disebabkan penumpukkan bilirubin
terkonjugasi yang ada dalam darah yang merupakan pigmen warna empedu.
b.
Nyeri perut kanan atas, nyeri yang dirasakan tergantung
dari penyebab dan beratnya obstruktif.
Dapat ditemui nyeri tekan pada perut kanan atas maupun kolik bilier.
c.
Warna urin gelap
(Bilirubin terkonjugasi). Urin yang berwarna gelap karena adanya bilirubin
dalam urin.
d.
Feces seperti dempul (pucat/akholis). Hal ini
disebabkan karena adanya sumbatan aliran empedu ke usus yang mengakibatkan
bilirubin di usus berkurang atau bahkan tidak ada sehingga tidak terbentuk
urobilinogen yang membuat feces berwarna pucat.
e.
Pruritus yang menetap. Adanya pruritus menunjukkan
terakumulasinya garam empedu di subkutan yang menyebabkan rasa gatal.
f.
Anoreksia, nausea dan penurunan berat badan. Gejala ini
menunjukkan adanya gangguan pada traktus gastrointestinal.
g.
Demam
h.
Pembesaran hepar
dan kandung empedu (Courvoisier sign).
F. Diagnosa
Langkah pertama pendekatan
diagnosis pasien dengan ikterus ialah melalui anamnesis, pemeriksaan fisik yang
teliti serta pemeriksaan faal hati.
1. Anamnesis
Anamnesis ditujukan pada riwayat
timbulnya ikterus, warna urin dan feses, rasa gatal, keluhan saluran cerna,
nyeri perut, nafsu makan berkurang, pekerjaan, adanya kontak dengan pasien
ikterus lain, alkoholisme, riwayat transfusi, obat-obatan, suntikan atau
tindakan pembedahan.7
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik meliputi perabaan
hati, kandung empedu, limpa, mencari tanda-tanda stigmata sirosis hepatis,
seperti spider naevi, eritema palmaris, bekas garukan di kulit karena pruritus,
tanda-tanda asites. Anemi dan limpa yang membesar dapat dijumpai pada pasien
dengan anemia hemolitik. Kandung empedu yang membesar menunjukkan adanya
sumbatan pada saluran empedu bagian distal yang lebih sering disebabkan oleh
tumor (dikenal hukum Courvoisier).3
Hukum Courvoisier : “Kandung empedu yang teraba pada
ikterus tidak mungkin disebabkan oleh batu kandung empedu”. Hal ini biasanya
menunjukkan adanya striktur neoplastik tumor (tumor pankreas, ampula, duodenum,
CBD), striktur pankreatitis kronis, atau limfadenopati portal.10
Pemeriksaan faal hati dapat menentukan
apakah ikterus yang timbul disebabkan oleh gangguan pada sel-sel hati atau
disebabkan adanya hambatan pada saluran empedu.1
Diagnosa klinis untuk pemeriksaan
jaundice obstruktif antara lain : 7
a. Peningkatan level bilirubin direk
(terkonjugasi) (> 0,4 mg/ml), Normal = 0,1-0,3 mg/ml.
b. Peningkatan level bilirubin indirek
(tak terkonjugasi) (> 0,8 mg/ml), Normal = 0,2-0,8 mg/ml.
c. Tidak adanya bilirubin dalam urin
atau peningkatan bilirubin urin (konsentrasi tinggi dalam darah).
d. Peningkatan urobilinogen (> 4
mg/24 jam) tergantung pada kemampuan hati untuk mengabsorbsi urobilinogen dari
sistem portal, Normal = 0-4 mg/hari.
e. Menurunnya urobilinogen fekal (<
40 mg/24 jam), Normal = 40-280 mg/hari, karena tidak mencapai usus.
f. Peningkatan alkalin fosfat dan
level kolesterol karena tidak dapat diekskresi ke kandung empedu secara normal.
g. Pada kasus penyakit hati yang sudah
parah, penurunan level kolesterol mengindikasikan ketidakmampuan hati untuk
mensintesisnya.
h. Peningkatan garam empedu yang
menyebabkan deposisi di kulit, sehingga menimbulkan pruritus.
i. Pemanjangan waktu PTT (Prothrombin
Time) (> 40 detik) dikarenakan penurunan absorbsi vitamin K.
3. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan Laboratorium
Tes
laboratorium harus dilakukan pada semua pasien jaundice termasuk serum
bilirubin direk dan indirek, alkali fosfatase, transaminase, amilase, dan
hitung sel darah lengkap. Hiperbilirubinemia (indirek) tak terkonjugasi terjadi
ketika ada peningkatan produksi bilirubin atau menurunnya ambilan dan konjugasi
hepatosit. Kegagalan pada ekskresi bilirubin (kolestasis intrahepatik) atau
obstruksi bilier ekstrahepatik menyebabkan hiperbilirubinemia (direk)
terkonjugasi mendominasi. Elevasi tertinggi pada bilirubin serum biasanya
ditemukan pada pasien dengan obstruksi maligna, pada mereka yang levelnya
meluas sampai 15 mg/dL yang diamati. Batu kandung empedu umumnya biasanya
berhubungan dengan peningkatan lebih menengah pada bilirubin serum (4 – 8
mg/dL). Alkali fosfatase merupakan penanda yang lebih sensitif pada obstruksi
bilier dan mungkin meningkat terlebih dahulu pada pasien dengan obstruksi
bilier parsial.1
Bilirubin
direk meningkat lebih tinggi dari bilirubin indirek lebih mungkin disebabkan
oleh sumbatan saluran empedu dibanding bila bilirubin indirek yang jelas
meningkat. Pada keadaan normal bilirubin tidak dijumpai di dalam urin.
Bilirubin indirek tidak dapat diekskresikan melalui ginjal sedangkan bilirubin
yang telah dikonjugasikan dapat keluar melalui urin. Karena itu adanya
bilirubin lebih mungkin disebabkan akibat hambatan aliran empedu daripada
kerusakan sel-sel hati. Pemeriksaan feses yang menunjukkan adanya perubahan
warna feses menjadi akolis menunjukkan terhambatnya aliran empedu masuk ke
dalam lumen usus (pigmen tidak dapat mencapai usus).1
B. Hematologi
Meningkatnya
level serum bilirubin dengan kelebihan fraksi bilirubin terkonjugasi. Serum gamma glutamyl transpeptidase
(GGT) juga meningkat pada kolestasis. Umumnya, pada pasien dengan penyakit batu
kandung empedu hiperbilirubinemia lebih rendah dibandingkan pasien dengan
obstruksi maligna ekstra-hepatik. Serum bilirubin biasanya < 20 mg/dL.
Alkali fosfatase meningkat 10 kali jumlah normal. Transaminase juga mendadak
meningkat 10 kali nilai normal dan menurun dengan cepat begitu penyebab
obstruksi dihilangkan. Meningkatnya leukosit terjadi pada
kolangitis. Pada karsinoma pankreas dan kanker obstruksi lainnya, bilirubin
serum meningkat menjadi 35-40 mg/dL, alkali fosfatase meningkat 10 kali nilai
normal, namun transamin tetap normal.1
Penanda
tumor seperti CA 19-9, CEA dan CA-125 biasanya meningkat pada karsinoma
pankreas, kolangiokarsinoma, dan karsinoma peri-ampula, namun penanda tersebut
tidak spesifik dan mungkin saja meningkat pada penyakit jinak percabangan
hepatobilier lainnya.6
2. Pencitraan
Tujuan dibuat pencitraan adalah:1,6
a. memastikan adanya obstruksi ekstrahepatik (yaitu membuktikan
apakah jaundice akibat post-hepatik dibandingkan hepatik),
b. untuk menentukan level obstruksi,
c. untuk mengidentifikasi penyebab spesifik obstruksi,
d. memberikan informasi pelengkap sehubungan dengan diagnosa yang
mendasarinya (misal, informasi staging pada kasus malignansi).
I. USG
Pemeriksaan pencitraan pada masa
kini dengan sonografi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan dianjurkan
merupakan pemeriksaan penunjang pencitraan yang pertama dilakukan sebelum
pemeriksaan pencitraan lainnya. Dengan sonografi dapat ditentukan kelainan
parenkim hati, duktus yang melebar, adanya batu atau massa tumor. Ketepatan
diagnosis pemeriksaan sonografi pada sistem hepatobilier untuk deteksi batu
empedu, pembesaran kandung empedu, pelebaran saluran empedu dan massa tumor
tinggi sekali. Tidak ditemukannya tanda-tanda pelebaran saluran empedu dapat
diperkirakan penyebab ikterus bukan oleh sumbatan saluran empedu, sedangkan pelebaran
saluran empedu memperkuat diagnosis ikterus obstruktif.1
Pada
pemeriksaan USG akan memperlihatkan ukuran duktus biliaris, mendefinisikan
level obstruksi, mengidentifikasi penyebab dan memberikan informasi lain sehubungan
dengan penyakit (mis, metastase hepatik, kandung empedu, perubahan parenkimal
hepatik). Identifikasi obstruksi duktus dengan akurasi 95%, memperlihatkan batu
kandung empedu dan duktus biliaris yang berdilatasi, namun tidak dapat
diandalkan untuk batu kecil atau striktur. Juga dapat memperlihatkan tumor,
kista atau abses di pankreas, hepar dan struktur yang mengelilinginya.1
II. Pemeriksaan Radiologi1,5
a.
Pemeriksaan foto polos abdomen kurang memberi manfaat
karena sebagian besar batu empedu radiolusen. Kolesistografi tidak dapat digunakan
pada pasien ikterus karena zat kontras tidak diekskresikan oleh sel hati yang
sakit.
b.
CT-scan : memberi viasualisasi yang baik untuk hepar,
kandung empedu, pankreas, ginjal dan retroperitoneum; membandingkan antara
obstruksi intra- dan ekstrahepatik dengan akurasi 95%. CT dengan kontras
digunakan untuk menilai malignansi bilier.
c.
ERCP (Endoscopic
Retrograde Cholangio Pancre atography) dan PTC (Percutaneus Transhepatic Cholangiography) : menyediakan visualisasi
langsung level obstruksi. Namun prosedur ini invasif dan bisa menyebabkan
komplikasi seperti kolangitis, kebocoran bilier, pankreatitis dan perdarahan.
d.
EUS (endoscopic
ultrasound) : memiliki beragam aplikasi, seperti staging malignansi
gastrointestinal, evaluasi tumor submukosa dan berkembang menjadi modalitas
penting dalam evaluasi sistem pankreatikobilier. EUS juga berguna untuk
mendeteksi dan staging tumor ampula, deteksi mikrolitiasis, koledokolitiasis
dan evaluasi striktur duktus biliaris benigna atau maligna. EUS juga bisa
digunakan untuk aspirasi kista dan biopsi lesi padat.
e.
MRCP (Magnetic
Resonance Cholangio-Pancreatography): merupakan teknik visualisasi terbaru,
non-invasif pada bilier dan sistem duktus pankreas. Hal ini terutama berguna
pada pasien dengan kontraindikasi untuk dilakukan ERCP. Visualisasi yang baik
dari anatomi bilier memungkinkan tanpa sifat invasif dari ERCP. Tidak seperti
ERCP, MRCP adalah murni diagnostik.
G. Tatalaksana
Pengobatan
ikterus sangat bergantung penyakit dasar penyebabnya. Beberapa gejala yang
cukup mengganggu misalnya gatal (pruritus) pada keadaan kolestasis
intrahepatik, pengobatan penyakit dasarnya sudah mencukupi. Pruritus pada
keadaan irreversibel (seperti sirosis bilier primer) biasanya responsif
terhadap kolestiramin 4-16 g/hari PO dalam dosis terbagi dua yang akan mengikat
garam empedu di usus. Kecuali jika terjadi kerusakan hati yang berat,
hipoprotrombinemia biasanya membaik setelah pemberian fitonadion (vitamin K1)
5-10 mg/hari SK untuk 2-3 hari.1
Pemberian
suplemen kalsium dan vitamin D dalam keadaan kolestasis yang ireversibel, namun
pencegahan penyakit tulang metabolik mengecewakan. Suplemen vitamin A dapat
mencegah kekurangan vitamin yang larut lemak ini dan steatorrhea yang berat dapat dikurangi dengan pemberian sebagian
lemak dalam diet dengan medium chain
trigliceride.1
Selama
ini titik berat jaundice obstruktif ditujukan kepada eradikasi bakteri dengan
pemberian antibiotika empedu pengganti, pemberian laktulosa dan terapi
pembedahan. Penatalaksanaan terapi ini sangat efektif bila dilakukan pada fase
dini dari ikterus obstruktif, akan tetapi hasilnya terbukti menjadi kurang
efektif bila dilakukan pada penderita yang sudah berlangsung lama, karena
adanya pengingkatan risiko gangguan fungsi ginjal.6
Terapi
pembedahan untuk mengembalikan fungsi aliran empedu dari hepar ke duodenum
adalah melakukan drenase interna yang dilakukan secara langsung dengan
menyambungkan kembali saluran empedu ke usus halus. Bila hal ini tidak
memungkinkan karena keadaan penderita terlalu lemah untuk dilakukan pembedahan
besar, maka dalam keadaan darurat dapat dilakukan drainase eksterna dengan
melakukan pemasangan pipa saluran melalui kulit ditembuskan ke hepar sampai ke
saluran empedu (Percutaneous Transhepatal
Drainage). Apabila keadaan penderita sudah stabil kembali, maka penderita
harus segera dilakukan pembedahan interna (DI).8
H. Komplikasi
Salah
satu penyulit dari drainase interna pada ikterus obstruktif adalah gagal ginjal
akut (GGA). GGA pada penderita ikterus obstruktif lanjut pasca drenase interna
sampai saat ini masih merupakan komplikasi klinis yang mempunyai risiko
kematian tinggi. Pada penderita ikterus obstruktif lanjut yang mengalami
tindakan pembedahan sering mengalami komplikasi pasca operatif. Komplikasi ini
berhubunga dengan endoktoksemia sistemik terjadi melalui 2 mekanisme yang
pertama, tidak adanya empedu pada traktus gastrointestinal yang bersifat “detergen like” sehingga terjadi
transolakasi endotoksin melalui mukosa usus. Dengan tidak adanya empedu dan
cinjugated bilirubin di traktus gastrointestinal akan menganggu funngsi barier
usus sehingga terjadi over growth bakteri, terutama bakteri gram negatif, yang
dapat menyebabkan translokasi bakteri maupun endotoksinnya kedalam sirkulasi.
Mekanisme kedua, ikterus obstruktif menyebabkan menurunnya fungsi kupffer
sebagai “clearance of endotoxin”
sehingga endotoksin semakin meningkat di dalam sirkulasi.8,10
Perubahan
hemodinamika ginjal yang terjadi pada pasien denga ikterus obstruktif bersifat
reversible. Oleh karena itu harus segera dilakukan intervensi optimal untuk
mencegah semakin memburuknya fungsi ginjal. Pencegahan terjadinya gagal ginjal
akut pada pembedahan ikterus obstruktif dengan melakukan ekspansi volume cairan
dari intaseluler menuju ekstraseluler dan menurunkan terjadinya endotoksinemia.6,7
Komplikasi
yang terjadi pada ikterus obstruktif adalah sepsis primer, perdarahan
gastrointestinal, koagulopati, gangguan penyembuhan luka bedah dan gagal ginjal
akut (GGA).5
bisa lampirkan refrensinya?
BalasHapus